Sunday, December 24, 2017

Tempat Belanja di Wageningen

Wageningen adalah kota dengan jumlah pelajar Indonesia yang cukup banyak. Pelajar muslim tentu saja bukan pengecualian. Tidak jarang, ada yang bertanya tentang makanan halal dan murah tentu saja. Agar lebih mudah, akan saya tulis disini saja sependek pengetahuan saya.

1. Zam-zam
Zam-zam adalah salah satu toko Asia di Wageningen. Terletak kurang lebih 100 meter dari bus stasiun Wageningen. Hanya perlu menyeberang jalan, lalu jalan sedikit dan sampai lah kita di toko Zam-zam. Toko ini agak kecil namun jualannya cukup bervariasi kok. Kalau saya sendiri di zam-zam lebih suka beli daging-dagingan dan tepung-tepungan. Seperti Daging sapi, hati sapi, daging ayam, tepung tapioca, tepung beras, dan tepung ketan. Kadang-kadang santan juga beli disini.

2. Lidl
Lidl adalah toko dari jerman (kalo saya tidak salah). Lidl lebih seperti mini market yang menjual chemilan, roti-rotian, cokelat, kue-kuean juga. Lidl ini menurut saya barang-barangnya murah tapi karena tidak ada label halal seperti zam-zam jadi biasanya saya membaca dulu komposisi bahan pangannya. Untuk bahan yang tidak boleh saya konsumsi biasanya adalah emulgator yang basis hewani. Jadi yang pertama saya lakukan adalah melihat emulgatornya, kalau lechitin baru saya ambil. Kalau yang kode-kode dengan E number, sebaiknya tanya dulu apa itu hewani atau nabati. Selain itu saya juga tidak membeli marsmallow disini karena mengandung komposisi yang tidak boleh saya konsumsi. Selebihnya rata-rata emulgatornya lechitin. Kalau disini saya lebih suka beli biskuit, cokelat, cereal, susu volle melk (menurut saya ini paling enak), donat, chese cake, udang, kentang beku, juga terkadang detergent dan keperluan mandi. 

3. Action
Kalau dari lidl ke Action, jaraknya mungkin sekitar 300 sampai 500 meter yah (I'm not good at this actually) tapi lumayan dekat kok. Nah kalo di Zam-zam dan Lidl tadi saya belanjanya makanan semua, di Action beda lagi. Saya biasanya kesini kalau ada keperluan non pangan, seperti membeli lampu sepeda, gembok sepeda, detergent, sabun-sabunan, lotion, lip balm, ATK, atau keperluan rumah tangga seperti lunch box, botol minum, plastik sampah, and many more. Pokoknya keperluan non pangan, saya disinilah pokoknya. 

4. Indrani
Indrani adalah toko Asia, sama juga seperti zam-zam. Bedanya kalau di zam-zam yang jaga Abang Turki, di Indrani yang jaga Ibu Suriname atau India yah. Saya sebenarnya tidak pernah tanya juga sih, cuma nebak dari wajah Ibunya. Toko ini juga menjual bumbu-bumbuan dan banyak hal dari Asia tapi biasanya saya kesini untuk beli tempe, tahu, juga sereh dan lengkuas bubuk. Walau rasanya tentu saja beda dengan bumbu di Indonesia, tapi lumayan mengobati rasa rindu negeri tercinta. 

5. Hema
Sebenarnya saya jarang ke Hema sih. Tapi tak apalah kusebutkan juga disini. Hema adalah toko yang berada tak jauh dari action. Kalau menurut saya yah, jualannya hampir sama yang ada d action tapi beda merk tentu saja dan mungkin beda kualitas juga, I'm not sure. Saya lebih suka belanja di Action karena lebih murah hehe. 

6. Jumbo
Berbeda dari semua toko di atas yang letaknya d centrum, nah Jumbo ini supermarket yang jauh dari centrum tapi paling dekat dengan kampus. Mungkin jumbo ini seperti waserba buat saya kalo lagi malas ke centrum. Di jumbo ada buah, ATK, sabun-sabunan, dan lain-lain. Tapi saya lebih sering ke centrum sih. Di jumbo biasanya saya beli minyak goreng dan telur. Kadang-kadang juga kalau malas mengayuh sepeda ke centrum yah saya belanja di jumbo pada akhirnya. Kalau teman-teman baru datang ke Wageningen, belum punya sepeda dan tinggal dekat kampus, jalan-jalan saja ke jumbo. Ada mie instant yang terkenal di negeri kita juga kok. 

7. Open Market
Open market atau saya juga suka menyebutnya fresh market. Open market adanya hari rabu dan hari sabtu saja. Karena saya liburnya sabtu, makanya sering ke open market. Terletak di dekat gereja dan dekat air mancur. Open market adalah surga bagi saya di Wageningen ini. Saya biasanya memulai belanja dari ujung belakang yakni tempat penjual ikan. Kadang-kadang beli ikan, kepiting, atau cumi. Setelah itu lanjut ke penjual sayur di sampingnya, tapi yang saya beli biasanya cuma jamur dan tauge. Barulah penjual selanjutnya saya membeli beberapa hal. Buah-buahan seperti mangga, melon, dll. Cabai besar dan kecil, jeruk nipis, tomat, sayur-sayuran seperti brokoli, etc. Kenapa saya paling suka penjual nomor tiga ini, karena murah tapi tidak tahu cukup tahan atau tidak buah-buahannya, saya juga tidak suka stok lama jadi lumayan efektif lah. Kalau cabai dan jeruknya bisa tahan sebulan di kulkas saya sih. 

Sebenarnya masih banyak toko lain di Wageningen, cuma yang paling sering saya kunjungi yah di atas ini. Kruidvat juga kadang-kadang cuma buat beli lotion. 

Semoga bermanfaat yah infonya. Feel free to email me kalo butuh informasi tentang ini.


Ira

Pada Akhirnnya

"Aku mau putus" kataku hanya beberapa detik setelah kau mengangkat teleponku.

"Kenapa?" tanyamu dengan nada yang tak bisa aku terjemahkan. 

Aku menutup teleponnya. 

Sudah tujuh tahun ternyata. Kita menjebak diri kita dalam hubungan palsu yang selalu kita terjemahkan sebagai cinta. Hubungan yang lebih banyak membawa air mata dari pada tawa. Hubungan yang bahkan kita sendiri tidak pernah tahu kemana arahnya. 

Dua tahun terakhir, kita sudah cukup banyak saling melukai. Berpura-pura saling mencinta meski sebenarnya kita sama-sama tahu bahwa itu hanyalah wujud lain dari ketakutan. Ketakutan berlebihan pada kesenderian dan kesepian. 

Waktu-waktu terakhir, kita saling mengenal satu sama lain. Memunculkan kekurangan perlahan-lahan yang membuat kita percaya, ternyata kita sudah di tahap yang semakin serius. Tanpa kita sadari ternyata kekurangan itu yang semakin menggerogoti kasih sayang, cinta, atau entah dengan apa lagi aku akan menyebutnya. Ternyata kita tak benar-benar saling menerima. 

Setiap kali kamu cukup sibuk dan selalu lupa segala hal tentangku. Aku katakan pada diriku dia sedang berjuang untuk kita. Tanpa tahu benar-benar apa yang sedang aku lakukan. 

Tapi pada akhirnya. Titik penerimaan itu ternyata bukan tanpa batas. Titik penerimaan itu akhirnya sampai di ujung, selangkah lagi ia mungkin akan jatuh dan hancur. Sebelum akhirnya ia hancur, bukankah sudah sangat tepat kita membiarkannya terbang. 

Karena kita sama-sama menyadari bagaimana melelahkannya berpura-pura. Itu melemahkan kita, membutuhkan energi yang lebih banyak. Jadi jangan lagi menoleh ke belakang.

Karena sudah saatnya. Pesan terakhir yang kukirm padamu sebelum memblock nomor teleponmu.

Belajar menulis lagi setelah sekian tahun.
Masih kaku.
Semoga adaptasinya tidak lama. 

Ira

Wednesday, December 20, 2017

Tentang Ilmu Baru dan Guru Baru

Aku pernah mendengar bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Jadi aku memaknainya bahwa setiap orang akan selalu memberikan pelajaran baru dalam hidup kita, dimanapun itu. Bukan tentang pelajaran yang aku dapatkan di sekolah tapi tentang pelajaran yang aku dapatkan dari alam dan lingkungan, dari orang-orang, dari adik-adik dan kakak-kakak.

Jadi, sejak kemarin dan hari ini. Aku menjadi murid dari seorang guru yang sangat baik. Adalah Margot, seorang mahasiswa S1 yang menjadi guruku pada proses ini.

Dua hari yang lalu, supervisorku mengirimkan email pada Margot, bertanya apakah saya boleh ikut melihat saat dia melakukan ekstraksi karoten pada samplenya. Supervisorku berfikir, jika aku melihatnya secara langsung, maka akan lebih mudah mengerti dan praktek nantinya.

Jadi aku menemui Margot pagi kemarin, tepat sesuai waktu yang kami sepakati. Aku memperkenalkan diri dan dia menyambut dengan sangat ramah. Mengajari dengan sangat sabar secara detail dari setiap langkah proses yang ia lakukan.


"Jadi Ira, ini dilakukan agar seperti ini dan seperti itu"ia mulai menjelaskan panjang lebar.

Pada awalnya aku hanya diam dan mendengarkan dengan baik serta mengiyakan ketika aku mengerti. Tapi setelah waktu berjalan dan aku tak lagi bisa menahan dahaga ilmu, akhirnya aku mulai menanyakan setiap hal yang muncul di kepalaku.

Tak dinyana, ternyata ia dengan sangat sabar bersedia menjelaskan segala hal meski hanya untuk memenuhi rasa penasaranku. Hingga tiba di sore hari, proses ekstraksi itu selesai.

"Alhamdulillah, kita mendapatkan banyak ilmu baru hari ini"kataku pada diri sendiri.

Pagi ini, aku menemuinya lagi. Melanjutkan proses kemarin. Setelah melakukan persiapan selama kurang lebih 10 menit. Ia menunjukkan alat analisa antioxidant itu padaku. Menunjukkan bagaimana alat itu bekerja. Menjelaskan fungsi dari semua selang-selang kecil yang bergantungan, caira-cairan di dalam botol, serta bagaimana alat itu bekerja.

"Subhanallah"Aku tiba-tiba merasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seperti ini yang kurasakan ketika pertama kali masuk lab di periode pertama kuliah. Merasakan bagaimana canggihnya teknologi di sekolah ini.

Aku menyadari bahwa aku selalu sangat bahagia dengan kejutan-kejutan pengetahuan baru setiap waktu. Mungkin seperti ini ketika sebuah dahaga pengetahuan terpenuhi. Membawaku pada kesadaran bahwa betapa masih sangat banyak hal yang tidak aku ketahui dan Tuhan memberikan pengetahuan baru lagi hari ini dari seorang adik di sekolah.

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan betapa bahagianya aku hari ini. Pada akhirnya, setelah berbulan-bulan hanya melihat data dan belajar mengolah data itu. Akhirnya hari ini aku bisa secara langsung belajar menggunakan alat itu.

Jadi Aku berbicara pada diriku

Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan gadis kecil.

Ira,

Monday, December 18, 2017

Vitamin

Vitamin termasuk dalam mikro nutrient yaitu komponen pangan yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang kecil demi menjaga keberlangsungan metabolisme, pertumbuhan, dan kesehatan. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit namun konsumsi vitamin tidak boleh diabaikan karena kekurangan konsumsi vitamin dapat menyebabkan berbagai penyakit tertentu. Vitamin secara umum tidak dapat disintesa oleh tubuh sehingga harus didapatkan dari diet atau makanan[1].

Secara umum, terdapat dua tipe vitamin yakni vitamin larut lemak atau fat soluble vitamin dan vitamin larut air atau water soluble vitamin. Vitamin larut lemak termasuk di dalamnya adalah vitamin A, D, E, dan K atau sering disingkat dengan ADEK. Sedangkan vitamin larut air termasuk didalamnya vitamin C dan semua vitamin B. Vitamin larut lemak dapat disimpan di dalam tubuh  yakni di hati dan jaringan tubuh dan akan digunakan ketika diperlukan sehingga tidak perlu konsumsi rutin. Sedangkan vitamin larut air butuh konsumsi yang rutin karena umumnya tidak bisa disimpan di dalam tubuh[2].

Fungsi vitamin ada berbagai macam, seperti menjadi komponen pembantu dalam pertumbuhan contohnya vitamin D yang bekerja sama dengan Kalsium dalam pembentukan tulang dan gigi. Dapat juga sebagai precursor enzim dalam tubuh seperti vitamin B1 (Thiamin) yang menjadi precursor dalam system pencernaan karbohidrat. Selain itu, vitamin dapat juga sebagai antioxidant, contohnya adalah vitamin A dan vitamin C.

Vitamin dapat dengan mudah diperoleh dari bahan pangan. Vitamin C misalkan, dapat diperoleh dari buah-buahan seperti jeruk, guava atau jambu. Vitamin A dapat diperoleh dari wortel, hati, sayuran berdaun hijau gelap. Vitamin B1 bisa diperoleh ikan salmon, tuna, biji bunga matahari, dan kacang-kacangan.

Terdapat RDA (Recommendation Daily Allowance) atau rekomendasi konsumsi harian yang berbeda untuk setiap vitamin. Jumlah ini biasanya berbeda berdasarkan umur, jenis kelamin, atau berat badan masing-masing individu. Mengkonsumsi sesuai jumlah RDA rata-rata, secara umum akan memenuhi kebutuhan vitamin kita. Namun terdapat pula UL (Upper Limit) atau jumlah maksimal vitamin yang boleh dikonsumsi. Mengkonsumsi dibawah RDA dapat menyebabkan defesiensi atau kekurangan sehinggga menyebabkan munculnya penyakit tertentu. Sedangkan mengkonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan keracunan yang gejalanya berbeda setiap jenis vitamin.
Ira
Note : Silahkan email saya jika ada hal yang ingin didiskusikan atau dikomentari yah.

References

1. https://www.cdc.gov/immpact/micronutrients/index.html. Diakses pada tanggal 17 Desember 2017
2. Bellows, L. and Moore, R., 2012. Fat-soluble vitamins: A, d, e, and k. Colorado State University Extension.


Thursday, December 14, 2017

Cara Mengubah (konversi) Konsentrasi persen (%), ppm, dan ppb

Konsentrasi larutan sering kali membuat kita pusing terutama ketika sedang bekerja di lab dan sedang mengerjakan tugas. Apalagi ketika dalam uraian soal yang disebutkan adalah dalam bentuk lain sementara yang ditanyakan dalam bentuk yang berbeda. Tidak jarang, melihat soal saja sudah pusing, apalagi mau menjawabnya.


Postingan kali ini, kita akan belajar mengerti persen, ppm, dan ppb sehingga dapat membuat kita lebih mudah dalam konversinya dari bentuk satu ke bentuk yang lain.


Persen atau seperseratus adalah 1 bagian dari 100. Sehingga jika dikatakan 1% itu berarti terdapat 1 bagian setiap seratus bahan tersebut. Contohnya adalah 100 ml larutan 20% HCl yang berarti ada 20 bagian HCl setiap 100 ml larutan tersebut, dan sisanya adalah pelarut. Contoh yang lain adalah 50 ml Ethanol 70%, yang artinya ada 70 ml Ethanol setiap 100 ml larutan dan karena hanya ada 50 ml jadi jumlah ethanol yang terdapat dalam larutan tersebut adalah 70/100 di kali 50 menjadi 35 ml, dan 15 sisanya adalah pelarut atau air.


 Sedangkan ppm adalah part per million atau bagian setiap sejuta. Jadi jika ada yang mengatakan 10 ppm, itu berarti terdapat 10 bagian zat tersebut setiap sejuta bagian. Seperti contoh konsentrasi zat A dalam keju adalah 25 ppm, yang berarti setiap 1 kg atau 1000000 mg terdapat 25 mg. Hal ini juga yang menyebabkan konsentasi ppm sering juga disebut sebagai mg/Kg atau mg/L untuk larutan.


 Sedangkan ppb atau part per billion adalah bagian setiap semilliar. Jadi konsentasi ppb lebih rendah lagi jika dibandingkan dengan ppm. Jika terdapat sebuah molekul dengan konsentrasi 30 ppb, ini berarti 30 bagian setiap semiliar atau 1000 juta.


 Untuk konversi dari persen ke ppm, maka konsentrasi persen harus dikalikan 10000, contohnya terdapat 5% molekul A dalam kue pie. Maka jika dibaca dalam bentuk ppm, terdapat 5*10000= 50000 ppm molekul A dalam kue pie tersebut.


 Sebaliknya jika konversi dilakukan dari ppm ke persen, maka konsentrasi ppm harus dibagi 10000, contohnya jika terdapat 50000 ppm molekul A dalam kue pie, hal ini berarti terdapat 50000/10000= 5% molekul A dalam kue pie tersebut.


 Sekarang konversi dari ppm ke ppb. Karena ppm adalah 1000 juta dari ppb. Maka jika konversi dari ppm ke ppb, harus dikalikan 1000. Contohnya terdapat molekul D dalam bayam sebanyak 5ppm maka jika dibaca dalam bentuk ppb menjadi 5*1000= 5000 ppb.


Sebaliknya jika konversi dilakukan dari ppb ke ppm, harus dibagi 1000. Sehingga jika terdapat 5000 ppb molekul D dalam bayam, hal ini berarti ada 5000/1000=5 ppm molekul D dalam bayam tersebut.


Nah mudah kan?


Kesimpulannya, kalau konversinya dari besar ke kecil harus dikali, seperti % ke ppm dikali 10000 karena 100 ke sejuta butuh 4 nol tambahan. Juga dari ppm ke ppb butuh 3 nol tambahan sehingga harus dikali 1000. Sebaliknya jika dari konsentasi kecil ke besar maka harus dibagi sesuai dengan jumlah nol yang harus dihilangkan.


Kalo ada pertanyaan email kami yah...


Ira