Wednesday, November 14, 2012

Untuk Seseorang yang Teramat Kucintai


Untuk seseorang yang sangat kucintai
Aku masih menjaga titah itu
Titah tanpa kata yang kulihat dari sorot matamu
Titah tanpa suara yang kudengar dari bisikan hatimu
Titah tanpa isyarat yang kumengerti melalui tetesan peluhmu
   
Untuk seseorang yang teramat kusayangi
Aku masih menggenggam amanah itu
Amanah yang terus kudekap
meski arus tlah membawaku terombang-ambing disini
Amanah itu masih kujaga
saat dunia benar-benar tak lagi kumengerti
    
Untuk seseorang yang teramat kubanggakan
Aku masih menjunjung petuah itu
Petuah yang akan terus menggema dalam hatiku
meski tanah tempatku berpijak sudah mulai retak
Petuah itu akan terus menemani hariku
saat teman dan lawan adalah bayangan dari cermin yang sama
   
Untuk seseorang yang teramat berharga bagiku
Percayalah,
titah itu masih kujaga,
amanah itu masih kugenggam,
petuah itu masih kujunjung.
    
Dibuat untuk orang2 yang teramat kusyaangi, trimakasih telah menjadi bagian hidupku,,, luf u all
Untuk saudara2ku,,, tak ada yang lebih indah dari persaudaraan,,,
Diposting di fb pada 21 november 2011 (Lupa tanggal nulisnya)

Tak Pernah Ada

Kutitipkan cintaku pada langit biar bumi mencarinya, mendapati jejaknya telah hilang lalu mengais mencari setitik harapan demi menemukannya. Agar kau tahu betapa cinta ini suci, biar kau mengerti setiap detik ada cinta dalam nafas yang masih berdesah dan kau paham meski dalam gelap sekalipun bayangmu tetap akan terlihat jelas di mataku, atau mungkin lebih tepat jika kukatakan dalam mata pikiranku.
    
Sore itu kau datang, meminta kepastian yang kujanjikan beberapa hari yang lalu. Kepastian yang tak pernah bisa kuberikan sejak satu tahun yang lalu saat pertama kali kau katakan apa yang kau sebut cinta itu. Dan sore ini pun saat kau menemuiku di taman ini, taman yang entah sudah berapa kali menjadi saksi ragu yang tak pernah bisa berhenti membelengguku tetap akan kau dapatkan jawaban yang sama. Tetaplah menunggu!
Aku ingin tahu seberapa lama kau mampu menunggu dan hidup dalam ketidakpastian ini, tanpa arah, tanpa tujuan. 
    
Ah! Seringkali aku ingin mengatakan betapa bodohnya kau tapi seringkali pula aku mengagumi sosokmu yang begitu setia menanti hati yang sebenarnya masih mencari sosok yang sempurna ini. Hati yang tak pernah ku berikan untukmu tapi tak juga pernah kuberikan pada siapapun.
      
Kau mungkin pernah bertanya atau sekedar berfikir mengapa aku begitu jahat padamu, dan mengapa aku tak mau melepaskan satu jarimu yang masih terus ku genggam atau memilih menggenggam semua jari-jari itu. Bertanyalah ! Tapi jangan tanyakan itu padaku sebab aku juga tak pernah bisa menjawabnya.
    
Kau mungkin akan menunggu beberapa hari lagi, atau mungkin beberapa bulan lagi jika kau sanggup tapi jika aku jadi kau, aku akan memilih untuk pergi saja, jauh, hingga ada hati yang menyibak sesal dalam kata terakhir yang kau ucapkan.


***
     
Malam itu aku menangis, tapi kau pasti tak percaya manusia seperti aku ini bisa menjatuhkan air mata dalam sedih. Aku menangis menunggu hatiku yang tak pernah mampu berikan kepastian. Aku menangis menunggu ragu melepaskan hatiku.
    
Ternyata ragu itu benar-benar menjauh. Melalui kalimat yang kau katakan pagi itu. Kalimat yang kau ucapkan ketika sang raja siang tak lagi menguasai singgasananya. Kalimat yang tak akan bisa hilang bersama hujan. Kalimat yang kemudian melepaskan segala belenggu ragu di hatiku.
     
Ah! Sudah kuduga sebelumnya. Kau tak akan mampu bertahan terlalu lama. Semakin kau mencoba untuk setia, semakin aku akan mencoba mencari titik ujung kesetiaan itu. Karena bagiku setia tak pernah ada, sebab menurutku hidup hanyalah serentetan penghianatan dari kawan yang kita percaya dan serentetan serangan dari lawan yang memang tak pernah kita percaya.

Untuk seseorang,,, Thanks for everything
Satu pelajaran berharga dari anda
Seseorang tak selamanya akan memperlakukan anda seperti apa yang anda inginkan, maka bersiaplah untuk segala kemungkinan yang akan terjadi..

Diposkan melalui facebook pada desember 2011 (Lupa kapan nulisnya)

Hampir Saja

Dia berdiri tepat di pintu hatiku ketika itu. Ketika aku benar-benar sedang membutuhkan seseorang tempatku bersandar. Saat kuinginkan sosok yang akan membawaku menjauh dari diriku sendiri. Menenggelamkanku dalam ceritanya dan mengajarkanku cara melupakan diriku sendiri.
    
Ketika itu, untuk pertama kalinya aku mengenal sesuatu yang mungkin seperti itulah yang sebagian besar orang sebut dengan cinta. Saat aku sadar bahwa anda, sosok yang selama ini sempat menarik hatiku telah membawaku dalam sebuah petaka yang mungkin akan menyesakkanku. Saat aku benar-benar sadar bahwa telah kulabuhkan hatiku pada sosok anda. Sosok yang hanya beberapa kali kutemui di alam nyata.
    
Cinta itu hadir bersamaan dengan diri anda yang baru, yang sudah tak mungkin untuk dimiliki. Diri anda yang mungkin hanya bisa kulihat tanpa menyentuh apalagi untuk menggenggamnya. Aku ingin mengakhirinya, sebelum akhirnya aku benar-benar memulainya dengan ketidakberdayaanku. Sebelum akhirnya benar-benar kurasakan sakit yang selama ini hanya menari dipikiranku.
     
Dan dia hadir ketika itu. Berdiri tepat di pintu hatiku. Bukan untuk menawarkan pertolongan tapi memberikan sandaran. Memberikan sebuah ruang yang akan membawaku bersamanya. Dia bukan menawarkan untuk membawaku menjauhi diriku agar bisa melupakan anda, tapi dia bersedia membawaku dengan semua kenangan alam khayalku. Dia berdiri disana, masih berdiri tepat di pintu hatiku.
     
Dan hampir saja kubiarkan ia masuk. Mengisi sedikit ruang yang masih tersisa, atau mungkin mengisi seluruh ruang. Menggantikan anda, kenangan tentang anda lebih tepatnya. Yah, hampir saja kuijinkan ia memberikan sandaran, membawaku bersamanya. Sungguh, aku benar-benar ingin membiarkannya masuk ketika itu. Tapi dasar, bahkan bayang anda saja tak pernah tergantikan oleh siapapun bagaimana mungkin akan kuijinkan ia menempati tempat yang tersisa itu. Bukankah itu sengaja kusisakan untuk diri anda yang nyata. Diri anda yang meski mustahil tapi tetap aku harapkan kehadirannya.

Makassar, 20 mei 2012

Seragam itu

Teringat ketika seragam itu masih membalut kita. Saat dunia benar-benar sebuah pesta yang sangat besar. Ketika siang dan malam berlalu begitu cepat dan setiap hari adalah canda dan tawa. Saat kita bermain tanpa beban, berjalan beriringan meski tahu tak satu tujuan. Saling mengejar walau tahu seseorang mungkin bisa sampai lebih dulu, tapi kita yakin dia pasti akan menunggu. Karena kita seperti magnet, saling menarik meski berbeda.
   
Waktu ternyata benar-benar berlalu begitu cepat dan memaksa kita melepaskan seragam itu. Membuat kita memasuki dunia tanpa seragam. Dunia tanpa tahu di bagian manakah seharusnya kita berdiri. Sekarang aku benar-benar tersesat dalam belantara ini. Belantara tanpa alamat yang bisa kujadikan petunjuk, belantara tanpa cahaya yang bisa kujadikan penuntun. Disini kami hidup tanpa seragam dan tak tahu bagaimana memperlakukan satu sama lain.
    
Sepertinya aku benar-benar tersesat di dalamnya. Belantara pengetahuan kata mereka. Tempat dimana aku bahkan tak lagi mampu mengenali diriku sendiri. Waktu ketika aku bahkan mulai lupa pada tujuanku sendiri. Aku tak tahu akan segala hal. Aku tak mengenali lingkunganku sendiri. 
    
Mataku masih normal tapi tak bisa melihat mereka dengan jelas. Indra pendengaranku juga tak terganggu tapi tak mampu mendengar apa yang mereka katakan. Lidahku juga masih baik-baik saja tapi mengapa tak pernah bisa kukatakan apa yang sebenarnya aku inginkan. Yah ! Aku mungkin sudah tersesat begitu jauh. 
   
Di tempat ini. Belantara ilmu kata mereka. Aku tak tahu apa itu ilmu dan apa itu pengetahuan. Tak kulihat lagi semua yang dulu kita pelajari bersama. Tak kudengar lagi semua aturan tak tertulis yang dulu diajarkan pada kita. Aku juga seringkali diajarkan berbohong oleh mereka , yang aku tak tahu teman atau lawan.
      
Di tempat kita yang dulu. Dunia kita yang begitu indah. Seorang guru adalah seseorang yang mengajar dan mendidik kita. Seseorang yang bahkan kita hormati sama dengan orang tua kita sendiri. Disini aku juga tak melihat itu lagi. Entah tak pernah melihatnya atau kebetulan saja aku tak pernah peduli. Tapi beberapa hari yang lalu aku mebaca sebuah tulisan yang aku pikir tak sopan pada pengajar kami. Aku ingin menentang dan berkata itu dulu adalah hal yang dilarang bagi kita. Tapi tidak, sebab aku juga tak memiliki kuasa. Sebab aku juga tak tahu harus bagaimana mengatakannya.
    
Di dunia kita yang dulu. Kita diajarkan untuk menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih mudah. Disini aku melihatnya meski hanya beberapa orang tertentu. Seorang yang dituakan bahkan ditentang dengan cara yang tidak sopan menurutku. Dan seseorang yang dianggap paling kecil diberikan gertakan, teriakan, bukan kasih sayang.
Aku benar-benar bingung berada disini…
     
Terimakasih untuk seseorang yang baru saja membahas tentang hari perpisahan itu
Hari yang benar-benar merubah segalanya...
Kost, 26 Desember 2011 22.00

Satu Langkah untuk Seribu Jejak

Indonesia adalah negeri yang sangat kubanggakan. Negeri dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Bangsa yang dengan kekayaan alamnya aku dimanjakan. Laut birunya yang amat luas, gunungnya yang hijau serta aneka flora dan fauna yang selalu membuatku bangga menjadi bagian dari negeri ini. Kekayaan alamnya yang melimpah ruah, tanahnya yang subur, ragam budaya, dan ragam suku yang semakin menambah pesona bangsa ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kekayaan bangsa ini tidak lantas membuat rakyat yang berada di dalamnya hidup sejahtera. Kesenjangan sosial terlihat begitu jelas, pembangunan yang tidak merata, bencana alam yang terjadi dimana-mana, korupsi, kurang gizi dan ada banyak fakta memprihatinkan lainnya yang ternyata sedang melanda bangsa ini. Meski sudah merdeka pada 67 tahun yang lalu, namun masih banyak rakyat yang belum merasakan indahnya kemerdekaan.  Bahkan jika boleh saya katakan sebenarnya kita sedang terjajah dengan cara yang berbeda.

Sebagai generasi muda yang saat ini menjadi harapan Ibu pertiwi, saya tahu bahwa tanggung jawab itu kini berada di pundakku bersama pemuda lainnya. Pemuda yang katanya adalah generasi penerus bangsa dan calon pemimpin 10 atau 20 tahun mendatang. Pemuda yang seharusnya menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan. Lalu dimanakah semua pemuda itu ?. Sungguh sangat memprihatinkan ternyata ada banyak diantara kami yang saat ini juga butuh untuk diselamatkan. Narkoba telah menyerang pemuda bangsa ini. Kebohongan seakan menjadi hal lumrah yang telah menggerogoti tiang negara. Setiap orang saling menyalahkan. Hanya ada keluh kesah dan ucapan kecewa yang sungguh menyesalkan keadaan negara ini.

Lalu apa aksi yang saya lakukan untuk negeri ini ? Aksi apa yang akan menyelamatkan bangsa yang teramat saya cintai ? Melakukan demonstrasi ? Mengecam para koruptor ? Ikut meratapi bencana dan menyesali yang telah terjadi ? Atau bangkit merubah dan memperbaiki bangsa ini ?.

Saya akan merubah diri saya sendiri. Perlahan tapi pasti saya akan menjadikan diri ini lebih baik dari waktu ke waktu. Satu langkah yang akan menjadi contoh bagi orang lain. Satu langkah yang akan meninggalkan seribu jejak meski jiwa telah meninggalkan raga ini. Satu langkah untuk diriku, keluargaku, teman-temanku, bangsaku, dan Indonesiaku.

Mengapa saya memilih memperbaiki diri dan bukan melakukan aksi yang akan diliput dan ditayangkan oleh media ? Saya yakin di negara ini ada banyak atau bahkan semua orang berfikir untuk memperbaiki bangsa ini tapi tidak banyak yang akan berfikir untuk memperbaiki diri sendiri. Padahal dengan memperbaiki diri sendiri kita mungkin bisa menjadi contoh bagi keluarga, sahabat, teman, serta menjadi contoh bangsa ini. Saya juga tahu betapa sulitnya melawan ego kita sendiri, menyelaraskan keinginan dan kebutuhan tapi diri ini akan berusaha. Meski harus bangkit dan terjatuh hingga berkali-kali, akan tetap kupaksa raga ini untuk melakukannya. Kelak, mungkin seribu tahun ke depan saat mayat ini sudah habis di makan oleh cacing tanah. Saya percaya bangsa ini pasti akan selalu lebih baik dari hari ke hari jika semua orang berfikir untuk memperbaiki diri sendiri.

Meski butuh 1, 2, 10, 20, atau bahkan 50 tahun untuk bisa menjadikan diri ini lebih baik, kita akan tetap melakukannya untuk bangsa ini. Meski sulit dan penuh rintangan kita akan melaluinya. Walau mungkin kita belum bisa melihat bangsa ini lebih baik sampai maut menjemput tapi kita tetap akan melakukannya dan terus menjadikan diri kita lebih baik. Kelak, mungkin ketika raga ini telah menyatu dengan tanah, saya percaya bangsa ini pasti akan meraih kejayaannya setiap saat.

Mari memulai satu langkah yang akan meninggalkan seribu jejak di negeri ini !!!

:) Harapan saya yang paling besar adalah semoga tulisan ini dapat menjadi renungan bagi diri saya sendiri dan pembaca agar menjadi pribadi yang lebih baik setiap saat untuk menjadikan Bangsa kita lebih baik. Saya percaya kebaikan hati akan melahirkan kejujuran dan kejujuran akan selalu menjaga kebaikan :)