Thursday, December 6, 2012

Tak Hanya Itu

Pagi itu mentari telah kembali dari peraduannya. Dengan mengemban amanah penguasanya, ia melangkah membagikan kehangatan pada makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Cahayanya yang tiada tertandingi segera menghapus gelap-gelap sisa sang malam. Ia benar-benar sudah siap menduduki singgasananya hari itu.

Andi melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa meninggalkan asrama tempatnya bernaung. Dalam balutan seragam putih abu-abunya, ia berjalan menuju ruang kelas yang hanya berjarak beberapa meter saja dari asramanya. Padahal waktu baru menunjukkan pukul tujuh. Sesuatu yang sangat jarang dilakukannya.

“Kak Andi …” sebuah suara yang begitu dikenalnya terdengar dari belakang.

Andi membalikkan badan dan menatap gadis yang hanya terpisah beberapa meter saja di hadapannya. Gadis berjilbab itu tersenyum dan melangkah ke arahnya. Andi mulai merasa gelisah, perlahan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Tapi terus disembunyikannya perasaan itu, mencoba ditutupinya seolah tak terjadi gejolak dalam jiwanya.

“Kenapa Yul ?” katanya, setelah berhasil menguasai dirinya.

“Kok tumben kakak datang cepat ?”

Nggak kok, kebetulan aja tadi aku lagi nggak mood sarapan jadi berangkat cepat. Kamu sering datang cepat ya ?” jawabnya, segera mengalihkan pembicaraan.

“Iya”Gadis itu mengangguk sembari terus memamerkan senyumnya yang indah.

“Eh Yul, kakak ke kelas dulu ya…” Andi meninggalkan Yuli tanpa menunggu gadis itu menjawab atau sekedar memberikan anggukan.

Gadis itulah yang menjadi jawaban atas tingkah aneh Andi sebab gadis itulah yang
akhir-akhir ini menjadi belenggu dalam hati seorang Ta’mir Masjid itu.
 ***

Malam semakin larut dalam pekatnya. Hembusan- hembusan angin dari arah sawah sesekali menyapa raga-raga para santri juga ustadz-ustadzah yang mendiami pondok hijau itu. Pun sepasang mata yang masih terus memandang pekat malam. Mata yang pemiliknya masih terus berusaha menepis bayangan gadis yang tadi pagi ditemuinya, gadis yang selama ini mendiami hatinya.

Senyum itu masih terus menari-nari di pelupuk matanya. Senyum indah seorang gadis dalam balutan jilbabnya. Meski terus ditepisnya tapi bayang itu justru semakin nyata. Sejauh ia memandang, wajah itu terus mengikuti. Semampu ia mendengar, tawa itu terus terngiang. Membuat Andi semakin jauh dalam kekalutan hatinya. Memaksa butiran- butiran bening dari matanya menetes satu-persatu.

Sementara itu Yuli sedang asyik bersenda gurau dengan kawan- kawannya. Memamerkan tawa kebahagiannya pada siapapun yang mendengarnya. Pikiran ringan, tanpa beban. Tanpa tahu ada jiwa yang kini tersiksa memikirkan dirinya.

Andi masih sibuk dengan alam pikirannya. Membiarkan dingin malam menembus pori-pori kulitnya, memasuki ruang terdalam hatinya. Berharap mampu berikan sejuk pada jiwanya yang kini begitu tersiksa. Benar-benar sudah tak bisa ditahannya gejolak cinta itu. ia ingin membagi rasa itu, menceritakannya, mengadu, dan segera membebaskan diri dari genggaman rasa yang menyiksa itu. 

Andi menuju teras asrama tanpa tahu ada sepasang kaki yang mengikutinya. Ia pikir semua santri di asramanya sudah memasuki alam mimpinya masing-masing. Pikirannya memang sudah dipenuhi oleh gejolak-gejolak cinta yang begitu menyiksa. Yang seakan memenjarakan batinnya. Hingga ia bahkan lupa pada Rahmat sahabatnya yang sebenarnya selama ini selalu memperhatikan tingkah anehnya.

“Ndi ?” kata Rahmat, perlahan menghampiri Andi.

Andi terkejut mendapati sosok sahabatnya itu kini berada di sampingnya. Menepuk bahunya dengan pelan dan menawarkan segelas minuman hangat untuknya.

“Terimakasih Mat ” ucapnya, seraya mengambil minuman itu dan meletakkannya di atas meja.

“Kenapa Ndi ? Ada masalah ?” Tanya Rahmat kemudian.

“Aku lihat akhir- akhir ini kamu berubah. Malas makan. Sering ngelamun. Semangat belajar kamu juga turun banget ” lanjut Rahmat.

Andi terharu menyadari ternyata masih ada orang yang peduli pada dirinya. Pada keadaannya. Akhirnya ia menceritakan semuanya pada Rahmat. Menumpahkan segala kalut dan pedih di hatinya. Melepaskan perih dan segala ragu yang terus membelenggu pikirannya. Membiarkan beban itu menghilang satu- persatu.

“Yuli anak kelas satu itu ?” Tanya Rahmat yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Andi

Awalnya Rahmat merasa bingung mengapa Andi merasa tersiksa dengan perasaannya itu. Padahal yang Rahmat tahu cinta itu adalah sebuah keindahan yang akan mebuat siapapun yang merasakannya serasa seperti melayang jauh ke angkasa. Tapi kini ia tak lagi merasa bingung. Bahkan dihatinya muncul rasa bangga pada sahabatnya itu. Sahabat yang memegang teguh prinsip agama. Sahabat yang sangat pantas mendapat dua acungan jempol.

“Aku harus gimana, Mat ?” Tanya Andi, meminta pendapat pada sahabatnya itu.

“Sulit Ndi. Seandainya aku berada di posisi kamu saat ini, aku juga pasti merasakan kebingungan yang sama . Terlalu rumit. Lebih rumit dari pada menyelesaikan soal trigonometri !”

“Jadi?”

“Saran aku Cuma satu prend,…” Rahmat menunjuk ke atas.

“Serahkan semuanya pada Allah!” lanjutnya.

Rahmat meninggalkan sahabatnya itu. Membiarkannya kembali ke alam pikirannya. Agar Andi dapat menemukan titik terang dari masalahnya. Berharap sahabatnya itu kembali bangkit dan terhindar dari virus merah muda itu.

Andi masih terus menatap langit dalam pekat malam itu. membiarkan hembusan angin menampar wajahnya. Ia seperti tidak merasakan dingin malam. Tidak menyadari waktu yang kini menunjukkan pukul dua lewat lima puluh tujuh menit.

“Aku ingin menyatakan perasaan itu” pikirnya.

“Tidak !” nuraninya membantah.

“Tapi aku ingin dia tahu. Aku ingin dia membalas perasaanku!” pikirnya lagi.

“Aku tahu. Tapi itu haram hukumnya.”

“Haram ? Kenapa ? aku hanya ingin menjalin hubungan dengannya tidak lebih dari itu.”

“Apa kamu lupa batas-batas pergaulan dalam islam? Itu bisa menjadi jembatan maksiat bagimu” nuraninya terus meyakinkan.

“Tapi aku menyayanginya. Aku tidak ingin kehilangan dia.”

“Lagi pula, bukankah cinta itu anugrah. Bukankah cinta ini datangnya dari Tuhan? Untuk apa Tuhan menciptakan cinta kalau ternyata itu akan menyengsarakan hambanya” pikirannya terus memaksa.

“Cinta memang anugrah, karena itulah kamu harus menjaganya. Dia adalah sesuatu yang indah, sebab itulah ia tersimpan rapat di hatimu. Dia akan menunjukkan keajaibannya pada waktu dan tempatnya nanti. Lagi pula kalau gadis itu jodohmu, ia tak akan lari kemana. Dan kalau pun bukan, Allah pasti menyediakan yang lebih dari dirinya. ”

Andi semakin bingung. Ia benar- benar dalam situasi yang sulit. Hati, pikiran, dan nuraninya tak lagi sejalan. Ia begitu kuat ingin menyatakan cintanya dan menjemput putri impiannya. Tapi ia juga tak ingin mengingkari janjinya pada Tuhan. Janji yang dilafadzkannya sejak masih dalam rahim ibunya. Janji untuk terus menjadi seorang abdi yang berbakti pada Tuhannya.

Ia mengadu pada Tuhannya di sepertiga malam terakhir. Berharap Tuhan segera memberikan jawaban yang bisa menenangkan hatinya. Ia ingin segera bebas dari belenggu itu. belenggu yang memenjarakan asanya.
***

Pagi ini tak begitu cerah. Butiran- butiran kecil berjatuhan dari langit. Tapi itu tak menghalangi langkah Andi menuju ruang kelasnya. Sujudnya malam itu benar- benar mendapatkan jawaban dari Tuhannya. Kini ia benar- benar seperti Andi yang dahulu. Andi yang semangat, energik, dan tidak suka menghayal. Ia telah menemukan ragu yang selama ini membelenggu jiwanya. Ragu yang kini telah dibuangnya jauh. Sangat jauh.

Ia benar- benar menyadari bahwa hidup tak hanya tentang satu hal tapi hidup adalah tentang kombinasi dari semua elemen- elemen kehidupan. Tentang perih, tawa, sakit, juga tentang ragu.

Hi Bro!” Rahmat menepuk pundak sahabatnya.

“Hei!” Andi membalas tepukannya.

“Gitu dong” kata Rahmat kemudian.

Reactions:

3 comments:

  1. Aku suka nulis.. Udah upload beberapa cerpen dan ff di blog-ku.. tapi, sayangnya, rangkaian-rangkain kata di sana benar-benar basi..
    Ahh, saya suka cara penyajian konteks kalimat Anda.. terdeskripsi begitu nyata dengan penyusunan kata yang menarik.. saya sukaa.. :) :)

    ReplyDelete