Friday, September 20, 2013

Hari Ini

Aku mendengarnya
Jerit hati penuh luka
Aku melihatnya
Runtuhan jiwa yang merapuh
Aku merasakannya
Gejolak dendam penuh kebencian

          Cercaan
                Makian
                     Hinaan
                            Kejam

Mentari yang menghilang di batas senja
Pelangi yang memudar di awal hujan

Kututup rembulan
Kubaringkan sang bintang

Merontah dalam genggaman tangan-tangan keji
Pada Pencipta aduan terucap
Pada air mata pengharapan
Karsa mulai mucul di hati

Hari ini
Aku menangis

Denganmu

Hari itu, saat kukatakan menjadi bagian dari kehidupanmu. Aku sadar ternyata diri ini sudah menjadi satu dalam sebuah kata yang disebut kita. Menjadi bagian dalam kehidupan seorang sederhana yang aku temui sewaktu masih SMA dulu. Kehidupan baru, hari-hari baru. 

Menjalani kehidupan dua tahun terakhir ini ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Kupikir akan mudah, indah, menyenangkan, dan tentu saja akan membuat kita tertawa setiap saat. Hahaha, alangkah piciknya pikirku ketika itu. :)
Ternyata dua tahun itu benar-benar penuh warna. Ada senang, sedih, canda, tawa, bahkan terkadang juga ada selisih paham dan cekcok di dalamnya. Arg, ternyata begini :(

Bukan sekali dua kali aku berfikir untuk berhenti. Untuk kembali menjadi aku dan kembali pada hidupku yang dulu. Independent. Tanpa cerita cinta konyol seperti ini. Bukan sekali pula aku menyesali hubungan ini. Menginginkan semuanya seperti dulu, saat kita hanya sebatas teman dan menikmati pertemanan yang teramat indah itu.Yah, aku ingin semuanya kembali. 

Lalu suatu hari saat aku berfikir dan merenungi semuanya. Ternyata tak seburuk yang aku pikirkan. Meski terkadang ada benci, ada banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi hubungan ini tetap indah bukan :). Dalam hubungan ini saya belajar banyak, sangat banyak. Saat dimana kita haris bertahan pada sesuatu yang sangat kita benci, saat dimana kita harus menjadi tergar, saat kita harus menguatkan satu sama lain, dan terus berusaha setia meski diluar istana kita ada banyak orang-orang yang berharap juga dapat memasukinya dan menyingkirkan salah satu dari kita. 

Saat itu aku berfikir, hubungan itu seperti sedang berlayar di lautan. Dan saat kuputuskan menggunakan perahu yang sama, itu artinya saya sudah siapkan berlayar bersama :). Perahunya kecil jadi muatnya cuma dua orang. Tidak ada tempat untuk yang kedua apalagi yang ketiga :). Karena kita ada diatas perahu, mana bisa berhenti dan turun begitu saja. Kan bisa tenggelam, hehhe. Juga tidak akan bisa ganti teman berlayar. Mana bisa lompat dari perahu yang satu ke perahu yang lain.
Kalau ujiannya lagi berat itu, seperti saat ombaknya keras. Kita tidak mungkin melompat dari perahu. Hanya ada satu pilihan, saling menguatkan satu sama lain. Bukankan saat-saat tertentu juga kita akan meewati lautan yang tenang :). Bukankah seperti itu ?

Dan saat kita tiba di persinggahan. Aku tahu bahwa aku semakin kuat dan akan melanjutkan perjalanan ini. Yah, hanya berharap yang terbaik.
Semoga apa yang kita benci dan menyusahkan kita selama ini adalah apa yang akan menguatkan kita suatu saat nanti :).