Wednesday, November 15, 2017

Berpindah ke Wageningen

Wageningen adalah salah satu kota di Belanda dimana terdapat banyak pelajar Indonesia menimbah ilmu. Saat ini terdapat ratusan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Wageningen University and Research atau disingkat WUR, baik itu di jenjang master maupun PhD.

Salah satunya adalah saya, yang sejak setahun terakhir telah menerima sumbangan-sumbangan ilmu dari para Professor yang ahli di bidangnya.

Sejak setahun terakhir, setiap intake baru akan dimulai, tidak satu atau hanya dua orang yang bertanya tentang apa-apa yang sebaiknya di bawah jika akan berangkat ke Wageningen. Untuk memudahkan saya sendiri agar tak lagi harus membalas japrian itu satu persatu serta memudahkan mereka juga agar tak perlu scroll-scroll pesan akhirnya dibuatlah tulisan ini.

Nah ada beberapa hal yang harus di bawah ketika ke Wageningen dan kenapa menurut saya itu harus di bawah,

 1.  Bumbu Instant

Bumbu Instant adalah senjata berharga terutama bagi makhluk-makhluk yang kemampuan memasaknya masih sangat rendah seperti saya. Jadi yang saya bawa ketika itu adalah kumpulan bumbu-bumbu instant mulai dari bumbu nasi goreng, bumbu rendang, bumbu gulai, bumbu soto, juga sampai bumbu racik ikan goreng, tempe goreng, ayam goreng, tepung bumbu, dan bumbu instant lainnya. Selain karena ini memudahkan dalam menyiapkan masakan, juga karena rasa dan takarannya sudah sangat sesuai dengan lidah saya sehingga tidak perlu lagi menambah ini dan itu. Pokoknya I thank to much lah sama perusahaan bumbu instant ini. Sebenarnya disini juga bisa didapati bumbu instant, setelah disini seminggu atau sebulan, teman-teman akan berkunjung ke toko asia dan menemukan bumbu instant untuk masakan Indonesia dengan harga sekitar 0.8 euro per bungkus konversinya kali sendiri ajah yah, euro sekarang 15800 kayaknya.

2. Bumbu Dapur tidak Instant

Bumbu dapur tidak instant ini seperti kunyit, ketumbar, lada atau merica, pala, kayu manis, dan kawan-kawan. Teman-teman pasti lebih tahu lah karena masakan kita kan beda jadi bumbu instant yang saya bawa yah kurang lebih yang saya lihat di dapur rumah. Sebenarnya tahun pertama saya tidak membawa semua ini, toh saya juga tidak bisa memasak jadi saya tahu benar ini bukan kebutuhan saya hihi. Tapi setelah lama dan lama ternyata makanan rumah selalu membuat mu rindu, jadi lah saya mulai belajar memasakn dan menyadari bahwa bumbu-bumbu ini ternyata adalah senjata yang juga sangat ampuh. Untung saja ketika itu ada teman yang mau berbagi dari stok bumbu hariannya. Well, sebenarnya bumbu-bumbu ini dapat dengan mudah ditemukan di supermarket dekat rumah maupun di toko asia tapi setelah saya hayati, resapi, dan rasakan ternyata a bit less gimana gitu, pokoknya gag dapat lah feel homenya.

3. Mie Instant

Mie instant sebenarnya antara yah dan tidak dalam daftar saya tapi karena orang-orang berbeda selera jadi yah mungkin sebaiknya di daftar iyya saja yah. Mie instant ini akan sangat berguna terutama jika ketika datang ke Wageningen anda tidak memiliki kenalan. Why it is ? Karena pengalaman teman saya yang datang ketika itu, dan belum tahu siapa-siapa. Mie instant merupakan senjata ampuhnya melawan keterlaparan selama beberapa hari. So, it can be useful. Tapi tidak usah banyak-banyak yah, karena di supermarket yang jaraknya cuman 3 menit naik sepeda dan 5 menit jalan kaki dari sini (Bornsesteeg red) juga dijual mie instant yang sangat terkenal di negara kita, walaupun cuma tiga rasa yakni soto, kaldu, dan goreng. Sementara di toko Asia di centrum yang jaraknya sekitar 15 menit naik sepeda dijual rasa yang lebih bervariasi kok.

4. Jaket Tebal

Nah yang ini juga totally depends on kapan teman-teman tiba di Wageningen. Kalau intake yang September kan tibanya masih Agustus which is masih summer sebaiknya bawa jaket yang tidak terlalu tebal saja. Tapi cuaca disini itu kadang galau, jadi walaupun summer kadang-kadang dingin juga, nah kalau teman-teman tipe-tipe yang benci banget dingin sebaiknya bawa 1 yang agak tebal lah. Nanti kalau mau beli lagi disini ada toko jaket yang murah kok. Ada Emmause yang di daerah centrum menjual barang second hand dengan harga sangat-sangat terjangkau sekitar 5 sampai 10 euro sudah bisa dapat jaket tebal. Ada juga Primark, yang terletak paling dekat di Arnhem (sekitar 30 menit naik bus dari Wageningen) yang juga menjual barang-barang dengan kualitas lumayan tapi harga yang pas di kantong mahasiswa. Untuk yang tiba Februari dimana cuaca lagi dingin-dinginnya, jaket tebal tentu highly recomended pake banget-banget.

5. Gula Merah (Gula Aren)

Apa pula ini yah, sebenarnya ini 100 percent pendapat dan kebutuhan saya pribadi. Karena saya sangat suka kue-kuean yang berbahan gula merah, jadi ini adalah salah satu barang wajib bagi saya. Sebenarnya di Supermarket dekat rumah dan di toko Asia jual juga tapi rasanya beda dengan yang dijual tetangga saya, jadilah saya harus membawanya dari rumah.

6. Obat-obatan Pribadi

Yang ini juga penting mengingat bahwa biasanya masing-masing individu sudah cocok dengan obat tertentu. Karena merk obat yang ada disini berbeda dengan obat yang ada di Indonesia,  saya pribadi menyarankan membawa obat-obatan sendiri. Obat-obatan yang saya bawa dari Indonesia juga sebatas obat-obatan yang mungkin saya perlukan selama disini, seperti paracetamol sebagai persiapan kalau-kalau saya demam dan ujian sudah di depan mata, obat penambah darah, vitamin dan yang paling penting adalah minyak telon dan minyak kayu putih karena menurut saya dua terakhir ini sangat ampuh menjadi penawar dingin dan masuk angin. Obat masuk angin juga sangat penting untuk cuaca Belanda yang mudah berubah-ubah.

7. Lampu Putih

Teman-teman tidak salah baca kok. Benar, ketika berpindah ke Wageningen saya menyarankan teman-teman membawa lampu putih yang tingkat terangnya sesuai dengan yang biasa teman-teman gunakan. This is because, lampu yang ada disini itu rata-rata kuning dan remang-remang menurut saya. Pengalaman saya sampai sekarang, tidak mudah menemukan lampu putih di Wageningen jadi sebaiknya teman-teman jangan lupa ini yah.

8. Baju Batik

Kalau yang ini teman-teman pasti sudah tahu alasannya.

Cheers,

Ira Djalal
Reactions:

0 comments:

Post a Comment