Sunday, December 24, 2017

Tempat Belanja di Wageningen

Wageningen adalah kota dengan jumlah pelajar Indonesia yang cukup banyak. Pelajar muslim tentu saja bukan pengecualian. Tidak jarang, ada yang bertanya tentang makanan halal dan murah tentu saja. Agar lebih mudah, akan saya tulis disini saja sependek pengetahuan saya.

1. Zam-zam
Zam-zam adalah salah satu toko Asia di Wageningen. Terletak kurang lebih 100 meter dari bus stasiun Wageningen. Hanya perlu menyeberang jalan, lalu jalan sedikit dan sampai lah kita di toko Zam-zam. Toko ini agak kecil namun jualannya cukup bervariasi kok. Kalau saya sendiri di zam-zam lebih suka beli daging-dagingan dan tepung-tepungan. Seperti Daging sapi, hati sapi, daging ayam, tepung tapioca, tepung beras, dan tepung ketan. Kadang-kadang santan juga beli disini.

2. Lidl
Lidl adalah toko dari jerman (kalo saya tidak salah). Lidl lebih seperti mini market yang menjual chemilan, roti-rotian, cokelat, kue-kuean juga. Lidl ini menurut saya barang-barangnya murah tapi karena tidak ada label halal seperti zam-zam jadi biasanya saya membaca dulu komposisi bahan pangannya. Untuk bahan yang tidak boleh saya konsumsi biasanya adalah emulgator yang basis hewani. Jadi yang pertama saya lakukan adalah melihat emulgatornya, kalau lechitin baru saya ambil. Kalau yang kode-kode dengan E number, sebaiknya tanya dulu apa itu hewani atau nabati. Selain itu saya juga tidak membeli marsmallow disini karena mengandung komposisi yang tidak boleh saya konsumsi. Selebihnya rata-rata emulgatornya lechitin. Kalau disini saya lebih suka beli biskuit, cokelat, cereal, susu volle melk (menurut saya ini paling enak), donat, chese cake, udang, kentang beku, juga terkadang detergent dan keperluan mandi. 

3. Action
Kalau dari lidl ke Action, jaraknya mungkin sekitar 300 sampai 500 meter yah (I'm not good at this actually) tapi lumayan dekat kok. Nah kalo di Zam-zam dan Lidl tadi saya belanjanya makanan semua, di Action beda lagi. Saya biasanya kesini kalau ada keperluan non pangan, seperti membeli lampu sepeda, gembok sepeda, detergent, sabun-sabunan, lotion, lip balm, ATK, atau keperluan rumah tangga seperti lunch box, botol minum, plastik sampah, and many more. Pokoknya keperluan non pangan, saya disinilah pokoknya. 

4. Indrani
Indrani adalah toko Asia, sama juga seperti zam-zam. Bedanya kalau di zam-zam yang jaga Abang Turki, di Indrani yang jaga Ibu Suriname atau India yah. Saya sebenarnya tidak pernah tanya juga sih, cuma nebak dari wajah Ibunya. Toko ini juga menjual bumbu-bumbuan dan banyak hal dari Asia tapi biasanya saya kesini untuk beli tempe, tahu, juga sereh dan lengkuas bubuk. Walau rasanya tentu saja beda dengan bumbu di Indonesia, tapi lumayan mengobati rasa rindu negeri tercinta. 

5. Hema
Sebenarnya saya jarang ke Hema sih. Tapi tak apalah kusebutkan juga disini. Hema adalah toko yang berada tak jauh dari action. Kalau menurut saya yah, jualannya hampir sama yang ada d action tapi beda merk tentu saja dan mungkin beda kualitas juga, I'm not sure. Saya lebih suka belanja di Action karena lebih murah hehe. 

6. Jumbo
Berbeda dari semua toko di atas yang letaknya d centrum, nah Jumbo ini supermarket yang jauh dari centrum tapi paling dekat dengan kampus. Mungkin jumbo ini seperti waserba buat saya kalo lagi malas ke centrum. Di jumbo ada buah, ATK, sabun-sabunan, dan lain-lain. Tapi saya lebih sering ke centrum sih. Di jumbo biasanya saya beli minyak goreng dan telur. Kadang-kadang juga kalau malas mengayuh sepeda ke centrum yah saya belanja di jumbo pada akhirnya. Kalau teman-teman baru datang ke Wageningen, belum punya sepeda dan tinggal dekat kampus, jalan-jalan saja ke jumbo. Ada mie instant yang terkenal di negeri kita juga kok. 

7. Open Market
Open market atau saya juga suka menyebutnya fresh market. Open market adanya hari rabu dan hari sabtu saja. Karena saya liburnya sabtu, makanya sering ke open market. Terletak di dekat gereja dan dekat air mancur. Open market adalah surga bagi saya di Wageningen ini. Saya biasanya memulai belanja dari ujung belakang yakni tempat penjual ikan. Kadang-kadang beli ikan, kepiting, atau cumi. Setelah itu lanjut ke penjual sayur di sampingnya, tapi yang saya beli biasanya cuma jamur dan tauge. Barulah penjual selanjutnya saya membeli beberapa hal. Buah-buahan seperti mangga, melon, dll. Cabai besar dan kecil, jeruk nipis, tomat, sayur-sayuran seperti brokoli, etc. Kenapa saya paling suka penjual nomor tiga ini, karena murah tapi tidak tahu cukup tahan atau tidak buah-buahannya, saya juga tidak suka stok lama jadi lumayan efektif lah. Kalau cabai dan jeruknya bisa tahan sebulan di kulkas saya sih. 

Sebenarnya masih banyak toko lain di Wageningen, cuma yang paling sering saya kunjungi yah di atas ini. Kruidvat juga kadang-kadang cuma buat beli lotion. 

Semoga bermanfaat yah infonya. Feel free to email me kalo butuh informasi tentang ini.


Ira

Pada Akhirnnya

"Aku mau putus" kataku hanya beberapa detik setelah kau mengangkat teleponku.

"Kenapa?" tanyamu dengan nada yang tak bisa aku terjemahkan. 

Aku menutup teleponnya. 

Sudah tujuh tahun ternyata. Kita menjebak diri kita dalam hubungan palsu yang selalu kita terjemahkan sebagai cinta. Hubungan yang lebih banyak membawa air mata dari pada tawa. Hubungan yang bahkan kita sendiri tidak pernah tahu kemana arahnya. 

Dua tahun terakhir, kita sudah cukup banyak saling melukai. Berpura-pura saling mencinta meski sebenarnya kita sama-sama tahu bahwa itu hanyalah wujud lain dari ketakutan. Ketakutan berlebihan pada kesenderian dan kesepian. 

Waktu-waktu terakhir, kita saling mengenal satu sama lain. Memunculkan kekurangan perlahan-lahan yang membuat kita percaya, ternyata kita sudah di tahap yang semakin serius. Tanpa kita sadari ternyata kekurangan itu yang semakin menggerogoti kasih sayang, cinta, atau entah dengan apa lagi aku akan menyebutnya. Ternyata kita tak benar-benar saling menerima. 

Setiap kali kamu cukup sibuk dan selalu lupa segala hal tentangku. Aku katakan pada diriku dia sedang berjuang untuk kita. Tanpa tahu benar-benar apa yang sedang aku lakukan. 

Tapi pada akhirnya. Titik penerimaan itu ternyata bukan tanpa batas. Titik penerimaan itu akhirnya sampai di ujung, selangkah lagi ia mungkin akan jatuh dan hancur. Sebelum akhirnya ia hancur, bukankah sudah sangat tepat kita membiarkannya terbang. 

Karena kita sama-sama menyadari bagaimana melelahkannya berpura-pura. Itu melemahkan kita, membutuhkan energi yang lebih banyak. Jadi jangan lagi menoleh ke belakang.

Karena sudah saatnya. Pesan terakhir yang kukirm padamu sebelum memblock nomor teleponmu.

Belajar menulis lagi setelah sekian tahun.
Masih kaku.
Semoga adaptasinya tidak lama. 

Ira

Wednesday, December 20, 2017

Tentang Ilmu Baru dan Guru Baru

Aku pernah mendengar bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Jadi aku memaknainya bahwa setiap orang akan selalu memberikan pelajaran baru dalam hidup kita, dimanapun itu. Bukan tentang pelajaran yang aku dapatkan di sekolah tapi tentang pelajaran yang aku dapatkan dari alam dan lingkungan, dari orang-orang, dari adik-adik dan kakak-kakak.

Jadi, sejak kemarin dan hari ini. Aku menjadi murid dari seorang guru yang sangat baik. Adalah Margot, seorang mahasiswa S1 yang menjadi guruku pada proses ini.

Dua hari yang lalu, supervisorku mengirimkan email pada Margot, bertanya apakah saya boleh ikut melihat saat dia melakukan ekstraksi karoten pada samplenya. Supervisorku berfikir, jika aku melihatnya secara langsung, maka akan lebih mudah mengerti dan praktek nantinya.

Jadi aku menemui Margot pagi kemarin, tepat sesuai waktu yang kami sepakati. Aku memperkenalkan diri dan dia menyambut dengan sangat ramah. Mengajari dengan sangat sabar secara detail dari setiap langkah proses yang ia lakukan.


"Jadi Ira, ini dilakukan agar seperti ini dan seperti itu"ia mulai menjelaskan panjang lebar.

Pada awalnya aku hanya diam dan mendengarkan dengan baik serta mengiyakan ketika aku mengerti. Tapi setelah waktu berjalan dan aku tak lagi bisa menahan dahaga ilmu, akhirnya aku mulai menanyakan setiap hal yang muncul di kepalaku.

Tak dinyana, ternyata ia dengan sangat sabar bersedia menjelaskan segala hal meski hanya untuk memenuhi rasa penasaranku. Hingga tiba di sore hari, proses ekstraksi itu selesai.

"Alhamdulillah, kita mendapatkan banyak ilmu baru hari ini"kataku pada diri sendiri.

Pagi ini, aku menemuinya lagi. Melanjutkan proses kemarin. Setelah melakukan persiapan selama kurang lebih 10 menit. Ia menunjukkan alat analisa antioxidant itu padaku. Menunjukkan bagaimana alat itu bekerja. Menjelaskan fungsi dari semua selang-selang kecil yang bergantungan, caira-cairan di dalam botol, serta bagaimana alat itu bekerja.

"Subhanallah"Aku tiba-tiba merasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seperti ini yang kurasakan ketika pertama kali masuk lab di periode pertama kuliah. Merasakan bagaimana canggihnya teknologi di sekolah ini.

Aku menyadari bahwa aku selalu sangat bahagia dengan kejutan-kejutan pengetahuan baru setiap waktu. Mungkin seperti ini ketika sebuah dahaga pengetahuan terpenuhi. Membawaku pada kesadaran bahwa betapa masih sangat banyak hal yang tidak aku ketahui dan Tuhan memberikan pengetahuan baru lagi hari ini dari seorang adik di sekolah.

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan betapa bahagianya aku hari ini. Pada akhirnya, setelah berbulan-bulan hanya melihat data dan belajar mengolah data itu. Akhirnya hari ini aku bisa secara langsung belajar menggunakan alat itu.

Jadi Aku berbicara pada diriku

Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan gadis kecil.

Ira,

Monday, December 18, 2017

Vitamin

Vitamin termasuk dalam mikro nutrient yaitu komponen pangan yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang kecil demi menjaga keberlangsungan metabolisme, pertumbuhan, dan kesehatan. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit namun konsumsi vitamin tidak boleh diabaikan karena kekurangan konsumsi vitamin dapat menyebabkan berbagai penyakit tertentu. Vitamin secara umum tidak dapat disintesa oleh tubuh sehingga harus didapatkan dari diet atau makanan[1].

Secara umum, terdapat dua tipe vitamin yakni vitamin larut lemak atau fat soluble vitamin dan vitamin larut air atau water soluble vitamin. Vitamin larut lemak termasuk di dalamnya adalah vitamin A, D, E, dan K atau sering disingkat dengan ADEK. Sedangkan vitamin larut air termasuk didalamnya vitamin C dan semua vitamin B. Vitamin larut lemak dapat disimpan di dalam tubuh  yakni di hati dan jaringan tubuh dan akan digunakan ketika diperlukan sehingga tidak perlu konsumsi rutin. Sedangkan vitamin larut air butuh konsumsi yang rutin karena umumnya tidak bisa disimpan di dalam tubuh[2].

Fungsi vitamin ada berbagai macam, seperti menjadi komponen pembantu dalam pertumbuhan contohnya vitamin D yang bekerja sama dengan Kalsium dalam pembentukan tulang dan gigi. Dapat juga sebagai precursor enzim dalam tubuh seperti vitamin B1 (Thiamin) yang menjadi precursor dalam system pencernaan karbohidrat. Selain itu, vitamin dapat juga sebagai antioxidant, contohnya adalah vitamin A dan vitamin C.

Vitamin dapat dengan mudah diperoleh dari bahan pangan. Vitamin C misalkan, dapat diperoleh dari buah-buahan seperti jeruk, guava atau jambu. Vitamin A dapat diperoleh dari wortel, hati, sayuran berdaun hijau gelap. Vitamin B1 bisa diperoleh ikan salmon, tuna, biji bunga matahari, dan kacang-kacangan.

Terdapat RDA (Recommendation Daily Allowance) atau rekomendasi konsumsi harian yang berbeda untuk setiap vitamin. Jumlah ini biasanya berbeda berdasarkan umur, jenis kelamin, atau berat badan masing-masing individu. Mengkonsumsi sesuai jumlah RDA rata-rata, secara umum akan memenuhi kebutuhan vitamin kita. Namun terdapat pula UL (Upper Limit) atau jumlah maksimal vitamin yang boleh dikonsumsi. Mengkonsumsi dibawah RDA dapat menyebabkan defesiensi atau kekurangan sehinggga menyebabkan munculnya penyakit tertentu. Sedangkan mengkonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan keracunan yang gejalanya berbeda setiap jenis vitamin.
Ira
Note : Silahkan email saya jika ada hal yang ingin didiskusikan atau dikomentari yah.

References

1. https://www.cdc.gov/immpact/micronutrients/index.html. Diakses pada tanggal 17 Desember 2017
2. Bellows, L. and Moore, R., 2012. Fat-soluble vitamins: A, d, e, and k. Colorado State University Extension.


Thursday, December 14, 2017

Cara Mengubah (konversi) Konsentrasi persen (%), ppm, dan ppb

Konsentrasi larutan sering kali membuat kita pusing terutama ketika sedang bekerja di lab dan sedang mengerjakan tugas. Apalagi ketika dalam uraian soal yang disebutkan adalah dalam bentuk lain sementara yang ditanyakan dalam bentuk yang berbeda. Tidak jarang, melihat soal saja sudah pusing, apalagi mau menjawabnya.


Postingan kali ini, kita akan belajar mengerti persen, ppm, dan ppb sehingga dapat membuat kita lebih mudah dalam konversinya dari bentuk satu ke bentuk yang lain.


Persen atau seperseratus adalah 1 bagian dari 100. Sehingga jika dikatakan 1% itu berarti terdapat 1 bagian setiap seratus bahan tersebut. Contohnya adalah 100 ml larutan 20% HCl yang berarti ada 20 bagian HCl setiap 100 ml larutan tersebut, dan sisanya adalah pelarut. Contoh yang lain adalah 50 ml Ethanol 70%, yang artinya ada 70 ml Ethanol setiap 100 ml larutan dan karena hanya ada 50 ml jadi jumlah ethanol yang terdapat dalam larutan tersebut adalah 70/100 di kali 50 menjadi 35 ml, dan 15 sisanya adalah pelarut atau air.


 Sedangkan ppm adalah part per million atau bagian setiap sejuta. Jadi jika ada yang mengatakan 10 ppm, itu berarti terdapat 10 bagian zat tersebut setiap sejuta bagian. Seperti contoh konsentrasi zat A dalam keju adalah 25 ppm, yang berarti setiap 1 kg atau 1000000 mg terdapat 25 mg. Hal ini juga yang menyebabkan konsentasi ppm sering juga disebut sebagai mg/Kg atau mg/L untuk larutan.


 Sedangkan ppb atau part per billion adalah bagian setiap semilliar. Jadi konsentasi ppb lebih rendah lagi jika dibandingkan dengan ppm. Jika terdapat sebuah molekul dengan konsentrasi 30 ppb, ini berarti 30 bagian setiap semiliar atau 1000 juta.


 Untuk konversi dari persen ke ppm, maka konsentrasi persen harus dikalikan 10000, contohnya terdapat 5% molekul A dalam kue pie. Maka jika dibaca dalam bentuk ppm, terdapat 5*10000= 50000 ppm molekul A dalam kue pie tersebut.


 Sebaliknya jika konversi dilakukan dari ppm ke persen, maka konsentrasi ppm harus dibagi 10000, contohnya jika terdapat 50000 ppm molekul A dalam kue pie, hal ini berarti terdapat 50000/10000= 5% molekul A dalam kue pie tersebut.


 Sekarang konversi dari ppm ke ppb. Karena ppm adalah 1000 juta dari ppb. Maka jika konversi dari ppm ke ppb, harus dikalikan 1000. Contohnya terdapat molekul D dalam bayam sebanyak 5ppm maka jika dibaca dalam bentuk ppb menjadi 5*1000= 5000 ppb.


Sebaliknya jika konversi dilakukan dari ppb ke ppm, harus dibagi 1000. Sehingga jika terdapat 5000 ppb molekul D dalam bayam, hal ini berarti ada 5000/1000=5 ppm molekul D dalam bayam tersebut.


Nah mudah kan?


Kesimpulannya, kalau konversinya dari besar ke kecil harus dikali, seperti % ke ppm dikali 10000 karena 100 ke sejuta butuh 4 nol tambahan. Juga dari ppm ke ppb butuh 3 nol tambahan sehingga harus dikali 1000. Sebaliknya jika dari konsentasi kecil ke besar maka harus dibagi sesuai dengan jumlah nol yang harus dihilangkan.


Kalo ada pertanyaan email kami yah...


Ira





Tuesday, December 12, 2017

Karena Sebuah Senyuman

"Aku tidak pernah tahu bahwa senyum yang bahkan tidak harus kubeli itu ternyata seharga sebuah masa depan".

Tujuh tahun yang lalu aku berada dalam sebuah ruangan, tempat dimana aku akan menimbah ilmu ketika itu, mengikuti sebuah kegiatan yang jika saya tidak salah mengingatnya, mereka menamainya Basic study skills.

Setiap pemateri memberikan materi yang sangat menyenangkan. Namun tak banyak yang berkesan dan tak banyak yang berbekas dalam ingatan.

Sampai pemateri ini muncul, seorang bapak-bapak yang meskipun tak kuhapalkan namanya namun wajahnya masih teringat jelas olehku.

Dia memulai materi tentang pengendalian diri, lalu tiba-tiba di tengah materinya ia tanpa sengaja menoleh ke arahku yang kubalas dengan sebuah senyuman.

"Wajah seperti ini yang akan memudahkan hidupmu ke depannya" katanya

Aku tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin sebuah senyuman akan memudahkan hidupmu di masa depan. Lalu ketika kuberitahu pada orang tuaku, kebiasaan positive seperti biasa, Papaku berkata mungkin pemateri itu benar.

Aku tak lagi banyak mengingat tentang hari itu. Ia tersimpan sangat rapi di folder lama di kepalaku. Dan seperti folder lama pada umumnya, kau tak banyak membukanya sampai kau menyadari ada sesuatu yang harus dilihat disana.

Hari ini aku membuka folder itu, mengingat rentetan peristiwa yang kualami tujuh tahun terakhir. Menyadari banyaknya kemudahan yang aku dapatkan dalam hidupku. Hingga aku melihat diriku yang hanyalah mahasiswa dari kampung, namun hari ini sudah berada di benua biru, di negara kincir angin kata orang-orang. Menimbah ilmu dari professor-professor hebat di bidang pangan. Ah, siapalah aku, yang bahkan tidaklah cukup cerdas apalagi bermodal uang untuk berada disini. Yah siapalah, jika saja hidupku tidak dimudahkan.

Aku menyadari kemudahan-kemudahan itu satu persatu. Kemudahan mendapatkan beasiswa, tes bahasa, lalu diterima di kampus yang saya inginkan.

Akhirnya aku paham, mungkin benar yang dikatakan pemateri itu. Senyum itu yang pada akhirnya membuat segalanya menjadi mudah. Senyum yang membuat orang-orang berdo'á untuk kebaikan kita. Orang yang mungkin do'anya lebih cepat diijabah dari do'á kita sendiri. Bahkan tujuh tahun yang lalu seharusnya aku sadar. Ketika ia aku tersenyum padanya, apa yang disampaikannya padaku adalah caranya mendoakan kebaikan atasku. Sebagai balasan dari senyuman itu, senyum yang tak harus kubayar tapi seharga sebuah masa depan.

Ira

Sunday, December 10, 2017

EC Number pada Enzim

Untuk teman-teman yang berkutat dengan enzim, EC number tentu saja bukan sesuatu yang baru. Namun bagi teman-teman yang belum lama berkenalan dengan enzim, EC number mungkin masih sedikit membingungkan untuk teman-teman.

Seringkali ketika kita melihat penjelasan tentang enzim, EC number dari enzim tersebut juga akan disebutkan. Misalkan pada Amylase dengan EC number EC 3.2.1.1.

Tapi apakah kita benar-benar tahu, apa itu EC number dan mengapa enzim memiliki nomor ini ?

EC pada EC number Enzyme Commission, dimana Enzim dikategorikan ke dalam 6 kategori berdasarkan fungsi reaksi kimia yang dimiliki oleh enzim tersebut. Kategori tersebut adalah

1. Oxidoreductases
Adalah kategori pertama dalam EC number. Enzim yang termasuk dalam kategori ini adalah enzim yang dalam reaksinya dapat mengoksidasi atau mereduksi sebuah substrat dengan transfer elekton atau hidrogen atau dengan penambahan oksigen. Salah satu contoh dari enzim ini adalah  aldose reductase adalah enzim yang dapat mereduksi aldehida dan karbonil seperti glukosa.

2. Transferases
Adalah kategori kedua dalam EC number. Enzim dalam kategori transferases dapat menghilangkan sebuah grup pada substrat dan mengtransfer grup tersebut pada substrat penerima. Atau seperti artinya dasarnya transfer (memidahkan) sebuah grup dari satu substrat ke substrat lainnya. Contoh enzim ini adalah thiosulfate sulfurtransferase pada reaksi pembuatan thiocyanate dari thiosulfate dimana gugus thio dari sulfate dipindahkan pada cyanide sehingga membentuk thiocyanate dan sulfite.

3. Hydrolases
Kategori ketiga ini adalah yang sangat banyak ditemui dalam bidang pangan. Hydrolases adalah enzim yang dapat melakukan hidrolisis atau pemecahan dengan bantuan air (H2O). Contoh enzim dalam kategori ini adalah amylase yang dapat memecahkan pati menjadi molekul yang lebih kecil.

4. Lyases
Sama seperti hydrolases, lyases juga memutuskan ikatan pada substrat. Namun, perbedaannya adalah lyases melakukan pemutusan rantai tanpa bantuan H2O sehingga hasil dari pemecahannya adalah adanya ikatan rangkap atau double bond.

5. Isomerases
Enzim ini bekerja dengan merestruktur substratnya tanpa mengubah komposisi atom sebuah substrat. Contoh dari enzim ini adalah glucose isomerase yang dapat mengubah glucose menjadi fructose atau sebaliknya. Jadi perubahan yang diakibatkan oleh enzim ini tidak menyebabkan perubahan molekul pada substrat.

6. Ligases
Adalah enzim yang dapat membantu pembentukan ikatan pada dua substrate. Atau dalam bahasa sederhananya, menyatukan dua substrat yang berbeda dalam satu ikatan.  Enzim ini bekerja dengan bantuan energi seperti ATP. Dalam buku Handbook of Enzymology dikatakan bahwa Proteins, carbohydrates, and triacylglycerols Disintesis dengan spesifik ligases menggunakan ATP, UTP, dan
CTP.

Reference
1. What Enzymes Do and Why They Are Highly Specific and Efficient Catalysts John R. Whitaker University of California, Davis, Davis, California, U.S.A dalam buku Handbook of Enzymology.
2. Wikipedia





Saturday, December 9, 2017

Salju dari Matamu

Aku masih sibuk mengerjakan laporan yang harus kukumpulkan hari itu juga ketika tiba-tiba telepon pintarku berbunyi. Sebuah panggilan dari WhatsApp. Nama yang tidak asing, seorang adik di negeri tercinta sana. Aku tahu ia ingin membahas hal yang cukup serius jadi segera kuselesaikan laporanku lalu pulang ke rumah dan meneleponnya kembali.

Dari seberang sana, aku mendengar isak tangis. Aku bisa menebak apa yang ingin ia ceritakan, sangat mudah menebaknya. Ia menceritakan hal yang sama setiap kali menelepon. Tapi ini kali pertama ia menangis, jadi aku sedikit kaget dan tak bisa mengatakan apapun. Aku membiarkan ia menangis sampai ia sendiri yang berhenti dan memulai percakapan. Aku tidak perlu mengatakan apapun, toh ia juga sudah cukup dewasa untuk mengolah emosinya sendiri.

"Kak, kenapa orang-orang selalu merendahkan mimpi kita ?" Ia memulai dengan pertanyaan itu.

Itu adalah pertanyaan yang sama yang selalu ia tanyakan. Mengapa orang-orang tak percaya dan mendukung mimpi kita. Mengapa orang-orang setidaknya tidak berpura-pura percaya dan membantu kita mewujudkan mimpi. Mengapa orang-orang terus meragukan dan bahkan beberapa mencemoh. Mengapa orang-orang seperti kita terlihat aneh ketika bermimpi terlalu tinggi. Yah seperti kita, orang-orang yang dilahirkan dari lingkungan yang bahkan untuk menempuh Sekolah Menengah Pertama sekalipun harus menempuh jarak 10 km dari rumah setiap harinya. Orang-orang yang untuk membayar transportasi harian saja, orang tua kita harus bekerja keras sepanjang hari. Ah rasanya aku ingin menangis saja mengingat siapa diri kita ini.

Ia menjadi lemah, pikirku. Bukankah dari dulu sudah kukatakan, jalan ini tak akan mudah. Aku bahkan tidak tahu apakah di mata orang lain, kita berhak memiliki mimpi. Lalu bagaimana mungkin ia berharap orang lain akan mendukung apalagi ikut meyakini mimpinya.

Dia tidak lemah, pikirku yang lain. Dia hanya tak lagi mampu menahan tekanan. Bukankah bahkan dengan kekuatan yang sama ketika diberi tekanan yang lebih tinggi pada akhirnya akan kalah juga. Ia tidak menjadi lemah, tekanan dari luar yang menjadi semakin kuat.


Tiba-tiba aku melihat diriku beberapa tahun yang lalu.

"Majalahnya sudah datang belum, Kak ?" tanyaku pada kakak tempatku langganan majalah.

"Iya dek, ini!"  Jawabnya sambil menyodorkan majalah itu padaku. Aku memberinya lembaran sepuluh ribu rupiah dan ia mengembalikan padaku seribu rupiah.

Aku pulang dan mulai mencari rubrik favoritku. Bagian dimana wajah-wajah inspiratif akan muncul dalam majalah itu, serta tulisan singkat tentang perjalanan mereka dan apa yang telah mereka raih hingga fotonya layak di pajang dalam majalah itu.

Kali ini sebuah foto wanita muda yang saat itu mengikuti Kompetisi Keilmuan hingga membawanya ke Korea Selatan. Dalam foto itu juga ada beberapa orang yang meski dalam pakaian tebal yang mungkin karena dingin, tapi wajah mereka terlihat sangat bahagia. Ah, suatu saat nanti aku juga akan ke luar negeri, kataku dalam hati.

Setiap kali aku melihat wajah-wajah dalam majalah itu, yang dengan segudang prestasi berhasil menjelah berbagai negara. Seperti mendapatkan suntikan semangat, kisah-kisah inspiratif itu sukses membuatku semakin dan semakin ingin mendapatkan kesempatan yang sama menjelajahi bumi Tuhan yang maha besar ini.

Sejak hari itu, aku selalu mengatakan pada semua orang bahwa suatu saat nanti aku akan kuliah ke luar negeri. Aku akan belajar di Universitas yang bagus, lalu suatu saat nanti aku akan mengunjungi menara Eiffel di Paris, keajaiban dunia yang selalu membuatku takjub.

Masih terlihat jelas reaksi orang-orang ketika itu. Reaksi yang seakan melihat ke wajahku dan berkata, bangunlah nak. Ini masih sore, kau tidur terlalu cepat.

Aku menguatkan diriku sendiri. Aku tahu betul bahwa mimpi bukan sesuatu yang bisa orang lain rebut dari kamu. Meski mungkin mereka akan membuatmu membuangnya atau meninggalkannya, mereka tidak bisa merebutnya. Aku hanya harus menjaganya dan menyimpannya rapat-rapat. Lagi pula mimpi sangat tinggi ketika itu jika diukur dari jarak dimana aku berada, jadi aku masih memiliki waktu yang cukup untuk menangkapnya jika saja seseorang berhasil mendorong dan menjatuhkannya.

Tiba-tiba saja aku sadar dari lamunanku dan melihat keluar jendela. Putih yang menari-nari di udara, seperti memanggilku bermain.

"Salju" bisikku pada diri sendiri.

Adik yang di seberang sana masih berusaha menahan tangis. Jadi kukatakan padanya.

"Menangislah! Selama kau tidak berhenti. Saatnya akan tiba ketika air matamu berubah menjadi salju. Kau tahu, salju bisa keluar dari mata orang-orang yang berhati putih sepertimu".


Ira Djalal






Frozen

Sabtu selalu menjadi hari yang istimewa.
Hari pertama weekend yang selalu menjadi hari yang tepat menjelajahi negeri ini.

Sabtu kemarin kami memutuskan berkunjung ke Amsterdam.

Bangun di pagi hari dan melihat keluar jendela. Wah. Putih.

Air-air di dedaunan mulai membeku dan menyajikan pemandangan indah yang baru pertama kali kulihat setelah setahun lebih tinggal di negara ini. Frozen. Begitu mereka menyebutnya.

Aku bahagia bahkan saat dingin terlalu dalam menusuk ke tulang. Berharap ia tak sampai ke hati tentu saja. Mengambil beberapa gambar yang akan menjadi kenangan indah di masa depan saat aku harus meninggalkan negara ini, atau saat usia memainkan peranannya menjadikan setiap kenangan sebagai bahan candaan dan sumber senyuman, atau jika suatu saat nanti seseorang yang mungkin akan menghuni hati ini untuk selamanya ternyata memilih istrinya berada di sampingnya daripada menjelah ke negeri yang lain. A moment to remember.

 Ketika hari itu tiba, aku akan membuka cerita ini. Mengingat bagaimana bahagianya aku hari itu. Berjalan di antara putih. Berharap putih itu bisa masuk ke dalam hatiku tanpa membawa dingin yang ada.

Friday, December 1, 2017

A Gift from Sinterklaas

Hari ini, seperti hari jum'at biasanya kami (staff dan mahasiswa yang bekerja di departement mikrobiologi pangan) akan menghadiri seminar mingguan.

Para mahasiswa maupun dosen akan memberikan presentasi dari research mereka di hari itu. Ada yang mempresentasikan hasil mereka atau dikenal dengan seminar hasil, ada yang mempresentasikan progress mereka, ada juga yang mempresentasikan proposal mereka. 

Dan jum'at ini pada awalnya akan menjadi jum'at biasa. Kami akan duduk cantik mendengarkan dan bertanya jika ada sesuatu yang kurang jelas atau ingin dipastikan dan selebihnya akan meninggalkan ruangan dan kembali ke kesibukan masing-masing.

Tapi tiba-tiba setelah presenter terakhir berbicara, seorang pengajar maju ke depan. Lalu kami mendengar suara seperti alarm. 

"Apa itu ?" katanya dalam Bahasa inggris.

"Can anybody check it ?" lanjutnya lagi.

Kami pada awalnya tidak berfikir ada yang aneh. Mungkin saja suara dari ruangan sebelah atau apapun itu. 

Lalu seseorang dari luar datang dan membawa sebuah surat.

"Ah, we get a gift from Sinterklaas" perlahan semua orang sudah mulai mengerti.

Kepala departement maju ke depan dan membacakan surat dari sinterklaas. Lalu di akhir suratnya Sinterklaas meminta kami menuju ruangan tempat dimana biasanya kami makan siang atau sekedar minum cokelat. 

Kami menuju ruangan dan waw, semua orang mendapatkan hadiah hari itu.



Ini mungkin seperti cerita anak kecil, juga sengaja ditulis seperti tulisan anak kecil yang begitu bahagia. Saya hanya merasa mereka membuat semua orang merasa spesial dan bahagia. Setiap orang kembali ke tempat kerja dengan sebungkus kado berisi gelas lucu dan sebungkus biskuit, juga sebatang cokelat di kemasan yang lain.

Hari itu aku melihat semua orang bahagia and I'm defenitely not an exception. 



Ira