Sunday, December 24, 2017

Pada Akhirnnya

"Aku mau putus" kataku hanya beberapa detik setelah kau mengangkat teleponku.

"Kenapa?" tanyamu dengan nada yang tak bisa aku terjemahkan. 

Aku menutup teleponnya. 

Sudah tujuh tahun ternyata. Kita menjebak diri kita dalam hubungan palsu yang selalu kita terjemahkan sebagai cinta. Hubungan yang lebih banyak membawa air mata dari pada tawa. Hubungan yang bahkan kita sendiri tidak pernah tahu kemana arahnya. 

Dua tahun terakhir, kita sudah cukup banyak saling melukai. Berpura-pura saling mencinta meski sebenarnya kita sama-sama tahu bahwa itu hanyalah wujud lain dari ketakutan. Ketakutan berlebihan pada kesenderian dan kesepian. 

Waktu-waktu terakhir, kita saling mengenal satu sama lain. Memunculkan kekurangan perlahan-lahan yang membuat kita percaya, ternyata kita sudah di tahap yang semakin serius. Tanpa kita sadari ternyata kekurangan itu yang semakin menggerogoti kasih sayang, cinta, atau entah dengan apa lagi aku akan menyebutnya. Ternyata kita tak benar-benar saling menerima. 

Setiap kali kamu cukup sibuk dan selalu lupa segala hal tentangku. Aku katakan pada diriku dia sedang berjuang untuk kita. Tanpa tahu benar-benar apa yang sedang aku lakukan. 

Tapi pada akhirnya. Titik penerimaan itu ternyata bukan tanpa batas. Titik penerimaan itu akhirnya sampai di ujung, selangkah lagi ia mungkin akan jatuh dan hancur. Sebelum akhirnya ia hancur, bukankah sudah sangat tepat kita membiarkannya terbang. 

Karena kita sama-sama menyadari bagaimana melelahkannya berpura-pura. Itu melemahkan kita, membutuhkan energi yang lebih banyak. Jadi jangan lagi menoleh ke belakang.

Karena sudah saatnya. Pesan terakhir yang kukirm padamu sebelum memblock nomor teleponmu.

Belajar menulis lagi setelah sekian tahun.
Masih kaku.
Semoga adaptasinya tidak lama. 

Ira
Reactions:

0 comments:

Post a Comment