Saturday, December 9, 2017

Salju dari Matamu

Aku masih sibuk mengerjakan laporan yang harus kukumpulkan hari itu juga ketika tiba-tiba telepon pintarku berbunyi. Sebuah panggilan dari WhatsApp. Nama yang tidak asing, seorang adik di negeri tercinta sana. Aku tahu ia ingin membahas hal yang cukup serius jadi segera kuselesaikan laporanku lalu pulang ke rumah dan meneleponnya kembali.

Dari seberang sana, aku mendengar isak tangis. Aku bisa menebak apa yang ingin ia ceritakan, sangat mudah menebaknya. Ia menceritakan hal yang sama setiap kali menelepon. Tapi ini kali pertama ia menangis, jadi aku sedikit kaget dan tak bisa mengatakan apapun. Aku membiarkan ia menangis sampai ia sendiri yang berhenti dan memulai percakapan. Aku tidak perlu mengatakan apapun, toh ia juga sudah cukup dewasa untuk mengolah emosinya sendiri.

"Kak, kenapa orang-orang selalu merendahkan mimpi kita ?" Ia memulai dengan pertanyaan itu.

Itu adalah pertanyaan yang sama yang selalu ia tanyakan. Mengapa orang-orang tak percaya dan mendukung mimpi kita. Mengapa orang-orang setidaknya tidak berpura-pura percaya dan membantu kita mewujudkan mimpi. Mengapa orang-orang terus meragukan dan bahkan beberapa mencemoh. Mengapa orang-orang seperti kita terlihat aneh ketika bermimpi terlalu tinggi. Yah seperti kita, orang-orang yang dilahirkan dari lingkungan yang bahkan untuk menempuh Sekolah Menengah Pertama sekalipun harus menempuh jarak 10 km dari rumah setiap harinya. Orang-orang yang untuk membayar transportasi harian saja, orang tua kita harus bekerja keras sepanjang hari. Ah rasanya aku ingin menangis saja mengingat siapa diri kita ini.

Ia menjadi lemah, pikirku. Bukankah dari dulu sudah kukatakan, jalan ini tak akan mudah. Aku bahkan tidak tahu apakah di mata orang lain, kita berhak memiliki mimpi. Lalu bagaimana mungkin ia berharap orang lain akan mendukung apalagi ikut meyakini mimpinya.

Dia tidak lemah, pikirku yang lain. Dia hanya tak lagi mampu menahan tekanan. Bukankah bahkan dengan kekuatan yang sama ketika diberi tekanan yang lebih tinggi pada akhirnya akan kalah juga. Ia tidak menjadi lemah, tekanan dari luar yang menjadi semakin kuat.


Tiba-tiba aku melihat diriku beberapa tahun yang lalu.

"Majalahnya sudah datang belum, Kak ?" tanyaku pada kakak tempatku langganan majalah.

"Iya dek, ini!"  Jawabnya sambil menyodorkan majalah itu padaku. Aku memberinya lembaran sepuluh ribu rupiah dan ia mengembalikan padaku seribu rupiah.

Aku pulang dan mulai mencari rubrik favoritku. Bagian dimana wajah-wajah inspiratif akan muncul dalam majalah itu, serta tulisan singkat tentang perjalanan mereka dan apa yang telah mereka raih hingga fotonya layak di pajang dalam majalah itu.

Kali ini sebuah foto wanita muda yang saat itu mengikuti Kompetisi Keilmuan hingga membawanya ke Korea Selatan. Dalam foto itu juga ada beberapa orang yang meski dalam pakaian tebal yang mungkin karena dingin, tapi wajah mereka terlihat sangat bahagia. Ah, suatu saat nanti aku juga akan ke luar negeri, kataku dalam hati.

Setiap kali aku melihat wajah-wajah dalam majalah itu, yang dengan segudang prestasi berhasil menjelah berbagai negara. Seperti mendapatkan suntikan semangat, kisah-kisah inspiratif itu sukses membuatku semakin dan semakin ingin mendapatkan kesempatan yang sama menjelajahi bumi Tuhan yang maha besar ini.

Sejak hari itu, aku selalu mengatakan pada semua orang bahwa suatu saat nanti aku akan kuliah ke luar negeri. Aku akan belajar di Universitas yang bagus, lalu suatu saat nanti aku akan mengunjungi menara Eiffel di Paris, keajaiban dunia yang selalu membuatku takjub.

Masih terlihat jelas reaksi orang-orang ketika itu. Reaksi yang seakan melihat ke wajahku dan berkata, bangunlah nak. Ini masih sore, kau tidur terlalu cepat.

Aku menguatkan diriku sendiri. Aku tahu betul bahwa mimpi bukan sesuatu yang bisa orang lain rebut dari kamu. Meski mungkin mereka akan membuatmu membuangnya atau meninggalkannya, mereka tidak bisa merebutnya. Aku hanya harus menjaganya dan menyimpannya rapat-rapat. Lagi pula mimpi sangat tinggi ketika itu jika diukur dari jarak dimana aku berada, jadi aku masih memiliki waktu yang cukup untuk menangkapnya jika saja seseorang berhasil mendorong dan menjatuhkannya.

Tiba-tiba saja aku sadar dari lamunanku dan melihat keluar jendela. Putih yang menari-nari di udara, seperti memanggilku bermain.

"Salju" bisikku pada diri sendiri.

Adik yang di seberang sana masih berusaha menahan tangis. Jadi kukatakan padanya.

"Menangislah! Selama kau tidak berhenti. Saatnya akan tiba ketika air matamu berubah menjadi salju. Kau tahu, salju bisa keluar dari mata orang-orang yang berhati putih sepertimu".


Ira Djalal






Reactions:

0 comments:

Post a Comment